KABUPATEN BANDUNG – Satu tahun kepemimpinan Dadang Supriatna (Kang DS) dan Ali Syakieb di Kabupaten Bandung diwarnai ujian berat. Transfer Keuangan Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2026 dipangkas hampir Rp1 triliun. Namun, badai fiskal itu tak menyurutkan langkah keduanya untuk memastikan program unggulan tetap menyentuh masyarakat.
Pasangan yang dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka pada 20 Februari 2025 itu memilih melakukan “rem” pada belanja non-prioritas demi menjaga “gas” pembangunan tetap menyala.
Dari semula Rp3,6 triliun, alokasi TKD turun menjadi Rp2,6 triliun. Selisih Rp1 triliun disiasati lewat efisiensi perjalanan dinas, rapat-rapat yang tak mendesak, dan penguatan belanja yang berdampak langsung bagi rakyat.
“Kami pastikan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tidak terganggu,” tegas Kang DS.
“Indikator Melesat di Tengah Tekanan.’
Menariknya, di tengah tekanan anggaran, sejumlah indikator justru menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik ke angka 76,4 poin. Tingkat kemiskinan turun dari 6,40 persen menjadi 6,04 persen, dengan target 5,48 persen pada 2027.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) stabil di 5,04 persen, sementara inflasi terkendali di angka 1,24 persen—lebih rendah dari rata-rata Jawa Barat.
Stabilitas ini turut berdampak pada penciptaan lapangan kerja yang melampaui target.
“Target 10 ribu tenaga kerja baru per tahun, alhamdulillah terealisasi 11.867 orang. Ini bukti ekonomi kita tetap bergerak,” ujar Kang DS.
“Jalan Mantap dan Rutilahu Dikebut.’
Di sektor infrastruktur, 85,74 persen jalan kabupaten kini dalam kondisi mantap, dengan panjang mencapai 1.125,53 kilometer. Delapan jembatan baru dibangun dan 20 jembatan direhabilitasi.
Pemkab Bandung juga mengalokasikan Rp1,4 triliun dalam tiga tahun untuk menuntaskan sisa jalan rusak sekitar 14 persen.
‘Sementara itu, program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) terus digenjot.
Tahun pertama periode ini, 3.524 unit rumah berhasil diperbaiki. Secara total dalam 4,5 tahun, sudah 32.851 unit rumah direnovasi.
” Program Unggulan Tetap Prioritas.
Sejumlah program unggulan tetap berjalan, mulai dari insentif bagi 17 ribu guru ngaji, pinjaman modal bergulir tanpa bunga tanpa jaminan, Beasiswa ti Bupati (Besti), hingga dukungan bagi P3K paruh waktu guru dan tenaga kependidikan.
Tak hanya itu, pembangunan Bandung Bedas Convention Center di Tegalluar kini masuk tahap Detailed Engineering Design (DED). Fasilitas ini akan terhubung dengan Stasiun Kereta Cepat Whoosh dan dirancang menjadi pusat pelayanan publik terpadu bagi wilayah timur Kabupaten Bandung.
Di sisi lain, program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga berjalan selaras di Kabupaten Bandung.
“Lebih dari 40 persen program kami sinkron dengan program Presiden. Insya Allah, apa yang kami lakukan membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat,” pungkas Kang DS.
Di tengah pemangkasan anggaran yang signifikan, duet Kang DS–Ali Syakieb menunjukkan satu pesan kuat: efisiensi boleh dilakukan, tetapi komitmen kepada rakyat tak boleh dipangkas.




