Sungai Penuh Hamparan Rawang : Kekentalan kerja sama antara unsur sarak (agama) dan adat
Kembali terlihat nyata di Kecamatan Hamparan Rawang pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Pada pelaksanaan Sholat Idul Fitri tahun ini, yang bertindak sebagai imam adalah Buya Zunirwan Bin Mad Tabri, tokoh agama asal Kalbu Patih Timahdo, Desa Koto Teluk.
Penunjukan imam tersebut bukan tanpa proses, melainkan melalui tahapan seleksi dan persiapan panjang yang melibatkan Imam Bertiga Hamparan Rawang, yakni Imam Besar, Imam Maulana, dan Imam Barajo.
Setelah melalui rangkaian persiapan yang matang, pelaksanaan Sholat Idul Fitri berlangsung khidmat di Masjid Raya Rawang, yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Ribuan jamaah turut hadir, baik warga yang berdomisili di kampung maupun para perantau yang pulang untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga.
Usai pelaksanaan Sholat Ied, Buya Zunirwan langsung diiringi menuju Rumah Gedang Depati Dua Nenek yang berada di Desa Kampung Dalam. Dalam prosesi adat tersebut, kaum adat memberikan gelar kehormatan kepada imam Sholat Ied sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan perannya.
Buya Zunirwan secara resmi dianugerahi gelar “Imam Maulana”, yang menjadi simbol pengakuan adat terhadap kapasitas keilmuan dan kepemimpinannya di bidang keagamaan.
Acara pemberian gelar ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, Imam Bertiga, Kepala Desa Koto Teluk, Kepala Desa Kampung Dalam, para anak jantan dari kedua desa, hingga tokoh agama setempat.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Buya Ares Loetfi, pegawai Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, sebagai bentuk rasa syukur serta harapan akan keberkahan dan persatuan masyarakat ke depan.
Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara adat dan agama tetap terjaga dengan baik di tengah masyarakat Hamparan Rawang, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial.
Apendi Yahya




