Fenomena seperti itu sering kali terjadi dalam hubungan yang sudah mengalami masalah komunikasi, hilangnya rasa menghargai pasangan, atau adanya konflik yang tidak diselesaikan dengan baik.
Jika memang seorang suami selama ini menjadi penanggung jawab utama kebutuhan keluarga, tetapi justru sering dihina, direndahkan, atau diabaikan, sementara orang lain yang tidak berkontribusi malah lebih dihormati, tentu hal tersebut dapat menimbulkan perasaan kecewa, tidak dihargai, bahkan sakit hati.
Apalagi jika sampai:
Akses komunikasi diblokir tanpa alasan yang jelas.
Pasangan lebih banyak berkomunikasi dengan pihak lain dibandingkan dengan suaminya sendiri.
Muncul dugaan adanya hubungan dengan orang ketiga.
Pengorbanan dan tanggung jawab yang telah diberikan dianggap biasa atau tidak bernilai.
Dalam psikologi hubungan, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan hilangnya rasa hormat (loss of respect) terhadap pasangan. Ketika rasa hormat memudar, pengorbanan yang besar sekalipun sering tidak lagi dihargai sebagaimana mestinya.
Namun, penting juga untuk tidak langsung menyimpulkan adanya perselingkuhan atau kesalahan sepihak tanpa bukti yang jelas. Hubungan rumah tangga biasanya memiliki dinamika yang lebih kompleks dan melibatkan sudut pandang kedua belah pihak.
Jika situasi yang Anda gambarkan benar terjadi, pertanyaan yang patut direnungkan bukan hanya “fenomena apa ini?”, melainkan juga:
Mengapa seseorang yang berkorban paling besar justru mendapat penghargaan paling kecil?
Dalam banyak kasus, penghargaan dalam hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar materi yang diberikan, tetapi juga oleh kualitas komunikasi, kedekatan emosional, dan bagaimana kedua pihak saling menghormati satu sama lain.
Yang jelas, sebuah rumah tangga yang sehat seharusnya dibangun di atas rasa hormat, kesetiaan, komunikasi yang terbuka, dan penghargaan terhadap pengorbanan pasangan, bukan penghinaan, pengabaian, atau perlakuan yang merendahkan salah satu pihak. ***
Redaksi





