Kediri- Kesenian jaranan adalah tari tradisional jawa yang menampilkan penari menunggangi kuda tiruan dari anyaman bambu.Berakar dari legenda kerajaan kediri dan Majapahit,tarian ini melambangkan semangat keprajuritan,latihan perang,serta sering di kaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan mistis atau kalau bahasa jawa(tengis)
Kesenian jaranan lekat dengan legenda kerajaan kadiri di masa prabu Amiseto,yang memilik putri jelita bernama Dewi Dyah Ayu Songgolangit
Karena banyak pangeran yang ingin melamarnya,sang Putri mengajukan syarat-syarat berat,ia meminta di ciptakan sebuah kesenian baru yang belum pernah ada,di iringi oleh seratus empat puluh ekor kuda kembar
Raja klono sewandono dari wengker ponorogo berhasil memenui sang putri,dan iring-iringan inilah yang di abadikan sebagai cikal bakal kesenian jaranan jawa yang tetap melekat masyarakat kediri dan tetap nguri-nguri budaya jawa
Sudah 36tahun tepatnya era tahun 90an ( Almarhum bpk.Sudarso ) Di desa yang masih sepi Dusun Brenjuk belum ada era digital terpanggil untuk nguri- nguri warisan budaya jawa dan di bantu para tokoh- tokoh seniman lokal mendirikan sebuah grup jaranan dan berjalan seiringnya waktu jaranan yang di namakan Kuda Surya Bhirawa mampu mengikuti irama seni budaya dan sekarang di teruskan oleh putranya bernama Sigit Subowo
Pk sigit di selah-selah acara ritual jamasan menuturkan ke awak media beliau mengemban amanah dari (almarhum bpknya)supaya tradisi ritual jamasan tahuan setiap bulan suro di laksanakan seperti memandikan semua alat-alat jaranan seperti kendang,kenong,gong, cungklir,terompet dll tujuan bentuk wujud syukur kepada sang maha kuasa
Masih pk sigit menuturkan acara ritual jamasan di hadiri para anggota grup jaranan dan juga masyarakat sekitarnya dan saya ucapkan terimakasih banyak seluruh anggota yang selalu setia hadir mendukung setiap ada kegiatan sehingga jaranan Surya Kuda Bhirawa tetap menjadi seni budaya untuk hiburan masyarakat pungkasnya(is)





