Bandung — Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Bandung, H. Asep Ikhsan, SE., S.Pd., MM., menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar pergantian bulan hijriah, tetapi momentum spiritual untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, menata ulang arah hidup, serta memperkuat kualitas iman.
Hal itu disampaikannya di Graha Wirakarya Ciparay, Kabupaten Bandung, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, puasa tidak cukup dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga.
“Hakikat puasa adalah pengendalian diri menundukkan ego, meredam amarah, dan membersihkan hati dari kesombongan serta iri dengki.
” Ramadan, tegasnya, merupakan madrasah pembentukan karakter yang melahirkan pribadi lebih sabar, jujur, dan peduli terhadap sesama.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, manusia kerap kehilangan kedekatan, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Karena itu, Ramadan hadir sebagai ruang rekoneksi dan pemulihan,memulihkan iman, memperbaiki relasi sosial, serta menghidupkan kembali nurani.
Ia juga menjelaskan bahwa awal Ramadan di Indonesia ditetapkan melalui mekanisme hisab dan rukyat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat bersama para ulama dan ahli falak. Namun, yang lebih utama dari kepastian tanggal adalah kesiapan hati.
Ramadan bukan hanya soal kapan dimulai, melainkan bagaimana dijalani dengan kesungguhan dan keikhlasan.
Di tanah Sunda, semangat penyambutan Ramadan tercermin dalam tradisi munggahan. “Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi simbol kesiapan batin untuk ‘naik’ (unggah)—naik derajat, naik kualitas diri, dan naik kesadaran sebagai hamba sekaligus makhluk sosial.
Esensinya adalah saling memaafkan dan mempererat silaturahmi, agar Ramadan benar-benar menjadi awal kedekatan dan perubahan diri yang nyata,” ujarnya.




