ACEH SINGKIL – 14 Juli 2025
Geliat ekonomi dan mobilitas masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil sempat tersendat dalam beberapa hari terakhir. Pengurangan drastis kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite memicu fenomena antrean panjang yang melumpuhkan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Kendaraan bermotor hingga jerigen-jerigen milik pedagang eceran terlihat mengular ratusan meter, menciptakan pemandangan yang jarang terjadi di wilayah tersebut.
Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas warga. Banyak pengendara yang terpaksa mengalokasikan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja atau aktivitas produktif lainnya.
“Saya sudah setengah hari mengantri di sini demi mendapatkan minyak. Kalau dihitung sudah lebih dari satu setengah jam,” keluh Rosdi, seorang pengendara sepeda motor dari Kecamatan Kuala Baru, saat ditemui media pada Selasa (14/7/2026).
Ia menambahkan bahwa rencana kunjungannya ke wilayah Gosong Telaga harus tertunda karena terjebak dalam kemacetan statis di pom bensin.
Kelangkaan ini tidak hanya menyulitkan pengendara umum, tetapi juga menghantam sektor vital daerah, yaitu perikanan.
Para nelayan kecil, yang sangat bergantung pada Pertalite untuk operasional kapal, mengaku kesulitan memperoleh pasokan meski telah mengantongi surat rekomendasi resmi dari Dinas Perikanan.
“Sebagian nelayan terpaksa berhenti melaut. Akibatnya, hasil tangkapan berkurang signifikan dan harga ikan di pasar lokal ikut merangkak naik,” ujar seorang nelayan setempat yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas harga pangan dan pendapatan masyarakat pesisir.
Menurut pantauan di lapangan, antrean tidak hanya didominasi oleh kendaraan pribadi. Puluhan jerigen berkapasitas 30 liter milik pedagang eceran juga terlihat berjajar, memperparah kepadatan di area SPBU.
Amsari, Pengawas SPBU Pulo Sarok di Kecamatan Singkil, mengungkapkan bahwa lonjakan antrean terjadi sejak tiga hari terakhir.
Penyebab utamanya adalah pengurangan pasokan dari Depot Pertamina Medan yang mencapai 50 persen.
“Biasanya kami menerima sekitar 16 ton atau setara 16.000 liter per hari. Sekarang hanya setengahnya, sekitar 8 ton atau 8.000 liter,” jelas Amsari.
Selain faktor pemotongan kuota, keterlambatan distribusi juga diperburuk oleh kondisi lalu lintas di jalur transit, khususnya di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, yang sering mengalami kemacetan berat sehingga memperlambat kedatangan truk tangki.
Meski pihak SPBU tidak memiliki otoritas penuh atas kebijakan alokasi kuota dari depot, Amsari memberikan sedikit kabar lega.
Ia memperkirakan pasokan Pertalite akan kembali normal dalam satu hingga dua hari ke depan seiring dengan perbaikan distribusi.
“Mudah-mudahan dalam satu atau dua hari ke depan pasokan kembali stabil, sehingga antrean di SPBU dapat berangsur terurai dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal,” tutupnya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus memantau situasi ini dan melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina untuk memastikan ketersediaan BBM subsidi, mengingat dampaknya yang sangat sensitif terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh Singkil.(*)
Htb





