ACEH SINGKIL – 17 Juli 2025
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh putri terbaik Aceh Singkil di kancah provinsi.
Sukma Cahyati Boru Hutabarat, siswi kelas III SMA Negeri 1 Singkil Utara, berhasil mengharumkan nama daerah setelah meraih peringkat ke-4 dalam cabang olahraga Atletik pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Provinsi Aceh.
Dalam kompetisi yang diikuti oleh 22 Kabupaten/Kota se-Aceh tersebut, Sukma tampil gemilang dengan mengikuti empat nomor atletik sekaligus: Lari 100 meter, Tolak Peluru, Lempar Lembing, dan Lompat Jauh, serta Lari 400 meter. Dengan total nilai akumulatif 1.505 poin, ia berhasil mengungguli peserta dari 18 kabupaten/kota lainnya, meski harus puas berada di posisi keempat.
Rincian prestasi Sukma cukup impresif. Pada nomor Lari 100 meter, ia mencatatkan waktu 14,44 detik dengan nilai 537. Di nomor Tolak Peluru, ia melempar sejauh 5,74 meter (nilai 255), sementara di Lempar Lembing mencapai jarak 18,16 meter (nilai 255). Untuk Lompat Jauh, ia melompat sejauh 3,99 meter (nilai 306), dan menutup rangkaian pertandingan di nomor Lari 400 meter dengan waktu 78,04 detik (nilai 152).
Konsistensi dan ketangguhan mentalnya menjadi kunci sukses dalam menghadapi tekanan kompetisi tingkat provinsi.
Di balik prestasi tersebut, terdapat kisah inspiratif dari keluarga sederhana. Sukma merupakan anak keempat dari lima bersaudara pasangan Sawirman Hutabarat dan Masni, yang bermukim di Desa Gosong Telaga Timur.
Kesuksesan putri mereka tidak lepas dari dukungan moral dan doa restu orang tua, meski dengan keterbatasan ekonomi.
Saat ditemui media di kediamannya, Jumat (16/7/2026), Sawirman mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas pencapaian putrinya.
Namun, di balik kebahagiaan itu, tersimpan harapan mendalam agar Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Singkil dapat memberikan perhatian yang lebih serius dan berkelanjutan kepada para atlet berprestasi.
“Kami sebagai orang tua sangat berharap agar Pemerintah Daerah Aceh Singkil bisa memberi perhatian pada anak-anak yang telah mengharumkan nama Kabupaten Aceh Singkil.
Walau secara administratif SMA berada di bawah Dinas Pendidikan Provinsi, namun nama daerah yang mereka bawa dan banggakan,” ujar Sawirman.
Sawirman juga menyuarakan keresahan banyak pihak terkait nasib para atlet pasca-kompetisi.
Ia menyoroti adanya kesan bahwa pemerintah cenderung hanya memberikan apresiasi sesaat berupa piala atau hadiah, tanpa ada tindak lanjut pembinaan atau perhatian kesejahteraan jangka panjang.
“Saya mendengar dari beberapa putra dan putri yang sudah pernah mengharumkan nama daerah selama ini, seolah-olah pemerintah tidak menganggap mereka ada.
Banyak sudah putra-putri terbaik Aceh Singkil yang pernah harumkan nama daerah ini, namun Pemda abai pada mereka.
Bahkan hari ini, banyak dari mereka yang bekerja serabutan tanpa perhatian khusus dari Pemda Aceh Singkil,” keluhnya dengan nada sedih.
Ia menekankan bahwa apresiasi terhadap atlet tidak boleh berhenti pada momen seremonial semata. “Ke depannya, kami berharap Pemerintah Aceh Singkil tidak lagi demikian.
Jangan hanya memberikan hadiah atau trofi, namun setelah itu lupa. Perlu ada program pembinaan, beasiswa, atau insentif lainnya agar motivasi atlet tetap terjaga dan masa depan mereka terjamin,” tutup Sawirman.
Prestasi Sukma Cahyati seharusnya menjadi momentum bagi Pemkab Aceh Singkil untuk mengevaluasi ulang kebijakan pembinaan olahraga daerah.
Dukungan yang komprehensif, mulai dari fasilitas latihan, pendampingan psikologis, hingga jaminan masa depan, akan menjadi bahan bakar bagi generasi muda Aceh Singkil untuk terus bersinar di tingkat nasional maupun internasional.(*)





