Globalinvestigasinews.com.Dompu.NTB.
Program ketahanan pangan yang di gaungkan Presiden Prabowo Subianto ke seluruh Gubernur, Bupati dan Wali Kota se Indonesia tampaknya tidak bisa di implementasikan secara serius dan sungguh-sungguh. Pasalnya dampak kekurangan air menyebabkan sekitar ratusan hektar tanaman padi petani terancam mati kering dan gagal panen.
Dari pantauan awak media ini Kamis siang (17/6/26) sekitar pukul 11.30 Wita, yang berlokasi di So tonda atau wilayah Desa Tonda Kecamatan Woja Kabupaten Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), para petani menjerit karena kekurangan air. Akibat kekeringan ini tanaman padi untuk musim tanam(MT) ke dua terancam mati layu dan gagal panen, dengan luas lahan sawah sekitar 100,hektar.
“Saat ini Kami sudah berupaya mengairi sawah dengan menggunakan air sumur bor asing-masing namun karena debet air yang kecil dan terbatas sehingga tidak mampu mengairi sawah yang sangat luas ini secara berkelanjutan. Mengingat embung tonda saat ini debit airnya sudah menurun, tutur syahrul salah satu anggota kelompok tani mangge kanggudu Tonda.
Mirisnya lagi kata Syahrul sapaan akrab ama Ru, titik sumur bor yang di miliki oleh para petani sangat sedikit, sementara pengguna air pada waktu yang sama sangat banyak, namun kami tetap berusaha keras mengaliri sawah dengan air sumur bor yang ada secara bergantian dan patungan mengeluarkan koceh ratusan ribu untuk membeli bahan bakar minyak mesin. Dalam sekali menyedot air bor dengan luas sawah setengah hektar, petani membutuhkan minyak pertalaix 25 liter dengan waktu dua hari siang malam. Kemudian dalam seminggu kami mengairi sawah paling sedikit dua kali. keluhnya.
Sementara umur padi kami baru mau berjalan dua bulan, dengan kondisi padi seperti itu sebenarnya membutuhkan air yang cukup namun karena keadaan cuaca yang panas dan kemampuan ekonomi petani yang terbatas, bisa di pastikan sebagian besar pedi petani di so tonda banyak yang mati kering karena kekurangan air dan tidak memiliki sumur bor dalam sendiri, keluhnya ama rao.
Ironinya di so tonda saat ini sudah ada sumur bor dalam yang di bangun oleh pemerintah dengan program inpres ketahanan pangan, yang di kerjakan oleh BBWS dengan anggaran ratusan juta rupiah namun sampai hari ini belum bisa di manfaatkan dan di serah terimakan ke Pemerintah Desa setempat atau ke kelompok tani pengguna air. Pada hal pembangunan bor dalam tersebut mulai di kerjakan sekitar bulan Agustus tahun 2025 dan selesai januari tahun 2026, namun sampai hari ini belum di serah terimakan, sehingga sumur bor dalam tersebut belum beroperasi. Sementara para petani sangat membutuhkan air bor dalam tersebut guna mengatasi kekeringan yang terjadi di so tonda saat ini.
“Jujur, saya belum tahu kapan proyek sumur bor dalam itu di serah terimakan, jangankan serah terima, ketika awal membangun proyek tersebut sampai dengan selesai saya tidak tahu, ujar Kades Tonda saat di hubungi awak media kemarin siang via hand phone pribadinya.
Masih Kades Tonda, proyek tersebut di bangun menurut informasi dari masyarakat sekitar akhir bulan agustus tahun 2025 dan selesai bulan januari 2026 dan proyek itu dari instansi mana sampai saat ini saya tidak tau juga, informasi dari masyarakat bahwa proyek itu dari BBWS NTB dan yang mengerjakan proyek itu dari BBWS sendiri, ucap Kades mumbu dengan nada santai.
Beberapa orang petani datang lapor ke Kantor bahkan kerumah, bahwa mereka minta agar sumur bor dalam yang menggunakan tenaga surya tersebut agar segera di operasikan mengingat sawahnya sudah kering, tapi saya tidak bisa memberikan kepastian kapan bisa di operasikan karena kepastian serah terima proyek itu belum jelas, elak Kades saat di tanya awak media.
Terkait hal itu juga beberapa hari yang lalu awak media ini sampaikan juga ke Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu agar sumur bor dalam yang berada di so tonda tersebut bisa di operasikan mengingat tanaman padi petani di so tonda dalam kritis karena kekeringan. Namun ia menjawab nanti saya akan koordinasikan dengan pihak BBWS.
Sampai berita ini di rilis keluhan dan kegalauan para petani di so tonda Desa Tonda Kecamatan woja, terkait tanaman padi yang bakal mati dan gagal panen karena kekeringan tidak di respon dan tutup mata oleh pemangku kebijakan di Bumi Nggahi Rawi Pahu melalui instansi terkait dan organ pemerintah di bawahnya, maupun Satgas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu.
Untuk itu di minta kepada Presiden RI Probowo Subianto agar mengevaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan keseriusan Kepala Daerah baik Gubernur, Bupati dan Wali Kota, dalam mensukseskan program ketahanan pangan menuju suasembada pangan Nasional.
Miris,nasib yang di alami para petani di so Tonda saat ini, karena tanaman padi yang hampir mau bergulir namun karena terlambat di atasi kekeringan bakal terjadi gagal panen, dan petani merugi ratusan juta rupiah, untuk itu di minta Bupati Dompu Bambang Firdaus SE jangan tutup mata agsr bisa mengambil langkah cepat dan kongkrit sehingga padi petani bisa terselamatkan, pungkas Jurnalis, Ddo.





