Mandailing Natal 03/08/2026 Global Investigasi news.my.id
Dua jembatan penghubung vital di Kecamatan Sinunukan dan Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, puluhan tahun menopang aktivitas masyarakat, namun hingga kini belum juga mendapatkan pembangunan baru, meski berulang kali diusulkan dan ditinjau oleh pemerintah.
Jembatan Sungai Batang Bangko di Desa Airapa yang dibangun sekitar tahun 1997 kini telah memasuki usia hampir tiga dekade, selama itu pula, masyarakat menilai perhatian pemerintah terhadap perawatan maupun penggantian jembatan sangat minim. Kondisi konstruksi besi dan lantai kayu semakin rapuh, sementara ribuan masyarakat masih menggantungkan mobilitasnya pada jembatan tersebut setiap hari.
Jembatan Muara Bangko Desa Airapa sepanjang kurang lebih 50 meter dan Jembatan Panjang Desa Bintungan Kampung, selama bertahun-tahun justru lebih banyak dirawat secara swadaya oleh pihak PT Palmaris Raya dengan mengganti besi H yang patah dan bantalan kayu yang rusak. Namun kini upaya tersebut semakin sulit dilakukan.
Menurut keterangan Bapak Lubis, yang mengaku menjadi saksi saat pembangunan jembatan dilakukan pada 1997, kayu berkualitas seperti damar sudah tidak lagi tersedia. Penggantinya hanya menggunakan kayu rasak yang masih muda sehingga daya tahannya sangat singkat.
“Kalau diganti sekarang, paling bertahan sekitar satu minggu karena kualitas kayunya sudah jauh berbeda,” ujarnya.
Ironisnya, hasil peninjauan dari Dinas PUPR Provinsi maupun Kabupaten disebut menyimpulkan bahwa jembatan tersebut pada dasarnya sudah tidak layak diperbaiki. Besi silang (X), besi H, hingga rangka utama telah mengalami korosi akibat usia sehingga solusi yang dinilai paling tepat adalah pembangunan jembatan baru.
Padahal, Jembatan Sungai Batang Bangko merupakan urat nadi perekonomian masyarakat yang menghubungkan Kecamatan Sinunukan dan Kecamatan Batahan. Setiap hari ratusan kendaraan pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, sembako, material bangunan, hingga aktivitas masyarakat bergantung pada akses tersebut.
Selain itu, terdapat satu lagi jembatan strategis yang kondisinya juga memerlukan perhatian serius, yakni Jembatan Muara Batang Bangko (Jembatan Panjang Bintungan) di Desa Bintungan Kampung, Kecamatan Batahan. Kedua jembatan tersebut menjadi jalur utama aktivitas ekonomi masyarakat Pantai Barat Mandailing Natal.
Kondisi yang terus memburuk memunculkan berbagai keluhan di tengah masyarakat. Di warung-warung kopi, mulai dari Warkop Bang Jok hingga Warkop Meja Panas Sinunukan, pembahasan mengenai proposal pembangunan jembatan yang disebut telah berkali-kali diajukan namun belum membuahkan hasil menjadi topik yang tak pernah selesai.
Sebagian tokoh masyarakat bahkan melontarkan usulan bernada satire agar dibentuk kotak amal seperti yang pernah dilakukan masyarakat di Aceh untuk membangun jembatan secara gotong royong. Ungkapan tersebut mencerminkan besarnya kekecewaan masyarakat terhadap lambannya realisasi pembangunan.
Tokoh masyarakat Desa Bintungan Bejangkar Baru, Abdi Wibowo, menilai solusi sebenarnya tidaklah rumit.
Menurutnya, pemerintah dapat mengumpulkan seluruh perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang beroperasi di wilayah Sinunukan dan Batahan untuk mengoptimalkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.
Perusahaan yang disebut antara lain PT PN IV Kebun Timur/Balap, PT Sago Nauli, dan PT Palmaris Raya.
“Jangan hanya PT Palmaris Raya yang terus dibebani membantu perawatan, sementara kendaraan milik perusahaan lain juga setiap hari melintasi jembatan ini. Semua harus ikut bertanggung jawab sesuai kemampuan melalui program CSR,” tegas Abdi Wibowo.
Hingga kini kendaraan bermuatan berat masih terus melintasi kedua jembatan yang sudah renta tersebut. Masyarakat mengaku bersyukur karena belum terjadi korban jiwa, namun mereka khawatir kondisi itu tidak akan bertahan selamanya apabila pembangunan terus tertunda.
Masyarakat




