SINUNUKAN, 25 Agustus 2026
Global Investigasi news.my.id
Kondisi jalan provinsi yang menghubungkan kawasan SP Pulo Padang–Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kembali menjadi sorotan. Jalan yang telah bertahun-tahun mengalami kerusakan tersebut kembali memicu kecelakaan lalu lintas dan menyebabkan dua pengendara sepeda motor mengalami luka-luka, salah satunya dilaporkan cukup parah.
Kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi pada Senin, 24 Agustus 2026. Peristiwa melibatkan dua kendaraan roda dua yang melaju dalam satu arah secara beriringan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua sepeda motor tersebut diperkirakan mengalami situasi sulit saat melintasi bagian jalan yang rusak. Salah satu sepeda motor terjatuh, sementara pengendara yang berada di belakang tidak sempat menghindar sehingga menabrak kendaraan yang telah terjatuh.
Akibat kejadian tersebut, dua pengendara mengalami luka dengan tingkat berbeda, mulai dari luka sedang hingga luka cukup parah.
Korban diketahui bernama Gunawan, warga Desa Wonosari, Kecamatan Sinunukan, dan Sukiat, warga Desa Sinunukan I Central, Kecamatan Sinunukan.
Kedua korban sempat dibawa untuk mendapatkan penanganan medis di Klinik Pratama Rawat dr. Reny. Namun, karena kondisi luka pada bagian kepala yang dialami Gunawan cukup serius, korban kemudian dirujuk ke RS Jamil Padang dengan mobil “Ambulance Klinik Pratama Rawat Inap dr Reny ” untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kapos Lantas Aiptu M. Solly Harahap, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, membenarkan adanya peristiwa kecelakaan lalu lintas tersebut.
Sementara itu, dr. Reny juga membenarkan kondisi salah satu korban cukup serius dan membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, termasuk dukungan peralatan serta tenaga dokter ahli.
Jalan Rusak Bertahun-Tahun, Sampai Kapan Masyarakat Menjadi Korban?
Peristiwa ini kembali membuka persoalan lama yang belum kunjung terselesaikan. Kerusakan jalan provinsi di kawasan SP Pulo Padang–Sinunukan bukan persoalan baru. Kondisi jalan yang rusak telah berlangsung cukup lama dan terus menjadi keluhan masyarakat.
Kecelakaan kali ini menjadi pengingat bahwa kerusakan infrastruktur jalan bukan hanya persoalan kenyamanan pengguna jalan. Ketika jalan rusak dibiarkan dalam waktu panjang, keselamatan masyarakat juga menjadi taruhan.
Masyarakat tentu berharap pemerintah dan instansi yang memiliki kewenangan atas jalan tersebut tidak menunggu semakin banyak korban sebelum mengambil tindakan nyata.
Jalan merupakan fasilitas publik yang digunakan masyarakat setiap hari. Jika kerusakannya sudah diketahui dan berlangsung bertahun-tahun, maka keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji perbaikan, tetapi tindakan nyata di lapangan.
Sebab, jangan sampai setiap kali terjadi kecelakaan, masyarakat hanya diminta berhati-hati, sementara kondisi jalan yang menjadi salah satu faktor risiko terus dibiarkan.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan masyarakat harus menjadi korban dari buruknya kondisi jalan..? (MO).




