Global Investigasi News.my.id
Akses Vital Sinunukan _ Batahan Kian Memprihatinkan, Pemerintah Diminta Jangan Lagi Menunggu Perbaikan Darurat
Airapa Mandailing Natal 13/09/2026 Kondisi Jembatan Airapa yang menjadi penghubung wilayah Kecamatan Sinunukan dan Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal, kembali menjadi sorotan. Infrastruktur yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas masyarakat justru terlihat semakin memprihatinkan.
Foto kondisi terkini memperlihatkan lantai jembatan yang tersusun dari papan-papan kayu dengan sejumlah bagian tampak tidak rata, renggang dan rusak. Pengguna jalan bahkan terlihat harus ekstra hati-hati saat melintasi jembatan tersebut.
Persoalannya bukan sekadar soal kenyamanan. Ketika sebuah jembatan vital sudah membutuhkan kehati-hatian ekstra dari setiap pengguna, pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan masyarakat harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk melewati akses penghubung antarwilayah?
Bukan Sekadar Rusak, Tetapi Diduga Sudah Tidak Layak Dipertahankan
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kondisi Jembatan Airapa sebelumnya telah beberapa kali mendapat perhatian dan peninjauan. Bahkan, menurut keterangan yang disampaikan kepada awak media, pihak teknis PUPR Provinsi Sumatera Utara telah menyatakan bahwa jembatan tersebut tidak cukup hanya diperbaiki, melainkan membutuhkan pembangunan jembatan baru.
Jika benar demikian, maka persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Sebab, memperbaiki bagian yang rusak berulang kali tanpa menyelesaikan persoalan konstruksi secara menyeluruh berpotensi hanya menjadi solusi sementara.
Masyarakat membutuhkan jembatan yang aman, bukan jembatan yang terus-menerus ditambal setelah rusak.
Kondisi seperti ini juga bukan persoalan yang baru muncul kemarin. Pada Januari 2025, media pernah memberitakan kerusakan jembatan akses Air Apa–Bintungan Bejangkar Baru yang diperbaiki setelah mengalami kerusakan, sementara warga saat itu juga berharap pemerintah membangun jembatan baru yang lebih baik.
PT Palmaris Raya Pernah Turun Tangan, Tetapi Sampai Kapan?
Di kawasan ini, PT Palmaris Raya juga sebelumnya tercatat pernah melakukan perbaikan jembatan yang digunakan masyarakat.
Pada 2022, pihak PT Palmaris Raya menyatakan perawatan salah satu jembatan dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sosial karena jembatan tersebut digunakan masyarakat sekaligus mendukung aktivitas pengangkutan hasil perkebunan.
Pada 2025, PT Palmaris Raya juga diberitakan memperbaiki jembatan yang menghubungkan kawasan Air Apa dan Bintungan Bejangkar Baru setelah mengalami kerusakan.
Namun, muncul pertanyaan mendasar:
Apakah persoalan jembatan publik yang menjadi akses masyarakat dan aktivitas ekonomi harus terus bergantung pada perbaikan darurat perusahaan?
PT Palmaris Raya tentu dapat berkontribusi melalui kepedulian sosial maupun CSR. Tetapi jika jembatan tersebut merupakan bagian dari infrastruktur publik, maka pemerintah tetap harus hadir dengan solusi permanen sesuai kewenangan dan status jalan/jembatan tersebut.
Kontras dengan Pembangunan Infrastruktur Besar
Ironisnya, di wilayah Batahan pemerintah saat ini juga tengah mendorong pembangunan infrastruktur strategis. Pembangunan Jembatan Aek Batahan sepanjang 120 meter menuju Pelabuhan Palimbungan dilaporkan telah mencapai 57 persen pada Juli 2026 dan diproyeksikan memperkuat konektivitas serta perekonomian kawasan Pantai Barat Madina.
Pembangunan tersebut tentu patut diapresiasi.
Namun, pembangunan infrastruktur strategis jangan sampai membuat akses dasar masyarakat di desa-desa justru luput dari perhatian.
Apa artinya konektivitas menuju pelabuhan semakin baik jika jembatan yang digunakan masyarakat sehari-hari masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan?
Jangan Tunggu Jembatan Ambruk
Inilah yang harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.
Jangan sampai pola penanganan infrastruktur selalu menunggu:
rusak → dikeluhkan → diperbaiki sementara → rusak kembali → masyarakat mengeluh lagi.
Kalau h




