KABUPATEN BANDUNG — Program Pentahelik penanganan dan pencegahan banjir di Kabupaten Bandung menunjukkan progres nyata. Di Kecamatan Solokan Jeruk, kolaborasi lintas sektor berhasil melakukan penanganan terhadap 13 titik rawan di sepanjang aliran Kali Cisunggalah, salah satu kawasan yang menjadi perhatian dalam mitigasi banjir.
Penanganan tersebut dipusatkan di wilayah Desa Panyadap, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung. Program diarahkan untuk mengatasi sedimentasi dan pendangkalan aliran sungai sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir.
“Peninjauan dan evaluasi lapangan dilaksanakan Selasa (11/8/2026), dihadiri Bupati Bandung Dadang Supriatna, Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb, Camat Solokan Jeruk Rahmatullah Mukti Pribowo, jajaran perangkat daerah, unsur teknis, pemerintah desa, serta elemen Pentahelik.
Turut hadir Anggota DPRD Kabupaten Bandung Fraksi PKB Dapil V, H. Dudi Mustopa, S.Pd., yang daerah pemilihannya meliputi Kecamatan Solokan Jeruk.
Program penanganan Kali Cisunggalah merupakan bagian dari kolaborasi berbagai unsur, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, unsur teknis, serta masyarakat.
Penanganan Cisunggalah sebelumnya juga telah dilakukan melalui normalisasi oleh BBWS Citarum di wilayah Desa Padamukti, Cibodas, Panyadap dan Desa Bojong.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai dan mengurangi risiko genangan.
Tiga Bulan, 13 Titik Jadi Sasaran Penanganan.
Ketua Pentahelik Kecamatan Solokan Jeruk, H. Asep Hana Karina, mengatakan penanganan Kali Cisunggalah telah berjalan kurang lebih tiga bulan.
Menurut Asep, sebagian besar dari 13 titik yang menjadi sasaran telah mendapatkan penanganan. Namun, masih terdapat tiga titik yang membutuhkan penyempurnaan.
“Alhamdulillah, pelaksanaan di lapangan berjalan dengan baik. Tidak ada kendala berarti dan tidak terjadi insiden selama pekerjaan berlangsung. Secara umum hari ini dapat dinyatakan selesai, tinggal penyempurnaan pada beberapa titik yang masih harus ditangani,” ujar Asep.
Ia menjelaskan, penanganan sedimentasi menjadi bagian penting dalam mitigasi banjir karena pendangkalan dapat mengurangi kapasitas tampung dan kelancaran aliran air.
Kali Cisunggalah sendiri menjadi salah satu aliran yang mendapat perhatian serius setelah sebelumnya terjadi peningkatan debit dan jebolnya tanggul yang berdampak pada Desa Bojong dan Panyadap.
BBWS Citarum mencatat kejadian tersebut pada April 2026 dan melakukan penanganan darurat di titik tanggul yang terdampak.
Bentang Kali Cisunggalah Sekitar Lima Kilometer
Asep mengatakan salah satu fokus Pentahelik adalah memastikan penanganan aliran Kali Cisunggalah dapat dilakukan secara terpadu pada titik-titik yang membutuhkan intervensi.
Bentang aliran yang menjadi perhatian mencapai sekitar lima kilometer, mulai dari wilayah Panyadap hingga kawasan Bojong, Majalaya.
“Dari 13 titik, tinggal tiga titik yang perlu penyempurnaan.
Kami akan terus melakukan koordinasi agar seluruh program dapat diselesaikan sesuai rencana,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan program tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, perangkat daerah, lembaga teknis, serta masyarakat.
Pentahelik Jadi Kekuatan Kolaborasi
Asep menegaskan persoalan banjir tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi.
Penanganan membutuhkan koordinasi dan pembagian peran sesuai kewenangan masing-masing.
“Kolaborasi pemerintah desa, kecamatan dan warga sangat menentukan. Semua unsur harus bergerak bersama agar penanganan di lapangan berjalan maksimal,” tegasnya.
Ia menambahkan, penyelesaian pekerjaan fisik bukan menjadi akhir dari program.
Pemeliharaan aliran sungai, pengawasan sedimentasi, kebersihan saluran, serta kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai harus terus dijaga.
“Pencegahan banjir bukan pekerjaan satu kali. Setelah penanganan selesai, yang paling penting adalah menjaga dan merawat hasilnya. Ini membutuhkan komitmen seluruh unsur dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.
KDS: Program Pencegahan Banjir Tidak Akan Berhenti
Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan upaya pencegahan banjir akan terus dilanjutkan di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung.
Menurutnya, penanganan banjir membutuhkan langkah berkelanjutan dan tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi.
“Program pencegahan banjir di Dayeuhkolot, Bojongsoang dan Solokan Jeruk terus dilanjutkan. Selama saya menjabat, program ini tidak akan berhenti.
” Kami akan terus memaksimalkan upaya pencegahan banjir di beberapa titik di Kabupaten Bandung,” tegas Dadang.
Komitmen tersebut menempatkan Pentahelik sebagai pendekatan kolaboratif dalam penanganan risiko banjir, dengan pemerintah daerah, lembaga teknis, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat bergerak sesuai fungsi masing-masing.
Penanganan Kali Cisunggalah menjadi salah satu contoh bahwa pengendalian banjir membutuhkan kerja bersama dan keberlanjutan.
Normalisasi, pemeliharaan sungai, penataan lingkungan, serta partisipasi masyarakat harus berjalan secara bersamaan agar hasil penanganan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Dengan progres penanganan 13 titik Kali Cisunggalah, Pentahelik Kecamatan Solokan Jeruk diharapkan semakin memperkuat sistem mitigasi banjir di Kabupaten Bandung sekaligus menjadi contoh kolaborasi lintas sektor dalam menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat dari risiko bencana.”
REDaksi.”




