SINGKIL – 23 Juli 2026
Puluhan warga Desa Ujung Bawang, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, melakukan aksi protes dan penolakan terhadap pelaksanaan pekerjaan pembangunan talud pada proyek peningkatan ruas Jalan Batas Aceh Selatan-Kuala Baru-Singkil-Telaga Bakti, yang bersumber dari APBA – Dana Otonomi Khusus Aceh – Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur tahun anggaran 2026.
Aksi tersebut berlangsung pada Kamis (23/7/2026) di lokasi proyek, sebelum massa bergerak menuju Kantor Bupati Aceh Singkil untuk menyampaikan aspirasi langsung.
Protes ini dipicu oleh rencana pemasangan talud dengan ketinggian mencapai 80 hingga 100 sentimeter di depan permukiman warga.
Masyarakat menilai desain tersebut tidak ergonomis dan akan menyulitkan akses keluar-masuk rumah, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
“Kami menolak keras jika ketinggian talud mencapai 80 hingga 100 sentimeter.
Itu akan sangat menyulitkan kami untuk beraktivitas. Jangankan lansia, kami yang sehat saja akan kesulitan masuk ke rumah karena posisi halaman rumah kami lebih rendah dari badan jalan,” ujar Tamrin, salah satu perwakilan warga, dengan nada tegas.
Warga menuntut agar tinggi talud disesuaikan menjadi maksimal 30 sentimeter dari aspal jalan, demi menjaga kenyamanan dan keselamatan aksesibilitas permukiman mereka.
Saat ketegangan terjadi di lokasi, Sekretaris Desa (Sekdes) Ujung Bawang, Rosyid Hidayat, mencoba melakukan mediasi bersama konsultan pengawas lapangan.
Sekdes, yang akrab disapa Dayad, berupaya menenangkan massa dengan menjanjikan akan mengirimkan surat permohonan revisi gambar kerja kepada Bupati Aceh Singkil.
“Saya berharap Bapak-bapak dapat mengerti. Kita akan kirimkan surat ke Bupati untuk melakukan perbaikan gambar pembangunan agar talud tidak terlalu tinggi.
Besok surat itu akan kami kirimkan,” kata Dayad kepada warga.
Namun, tanggapan dari pihak konsultan pengawas justru memicu kekecewaan warga.
Konsultan menyatakan bahwa penundaan pekerjaan hanya berlaku untuk hari itu saja, tanpa memberikan jaminan perubahan desain secara permanen.
Merasa jawaban tersebut tidak memuaskan dan dianggap mengulur waktu, warga memutuskan untuk bergerak secara kolektif menuju Kantor Bupati.
Pantauan awak media menunjukkan bahwa rombongan warga telah tiba di Kantor Bupati Aceh Singkil sekitar pukul 13.33 WIB.
Mereka tampak menunggu di ruang tunggu (antre) sambil menunggu Bupati selesai melaksanakan shalat Dzuhur.
“Hingga saat ini kami sudah berada di dalam kantor, menunggu giliran untuk bertemu Bupati,” konfirmasi salah satu perwakilan warga via WhatsApp.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi atau tanggapan dari pihak Pemkab Aceh Singkil terkait tuntutan warga.
Aksi ini menjadi ujian bagi responsivitas pemerintah daerah dalam menangani keluhan infrastruktur yang berdampak langsung pada hajat hidup masyarakat.
Warga berharap adanya solusi cepat dan revisi teknis yang mengakomodasi kebutuhan aksesibilitas warga Ujung Bawang.(*)
Tim GINWS




